The transmission mechanisms of monetary policy in Indonesia

March 20, 2009 at 9:07 am Leave a comment

The transmission mechanisms of monetary policy in Indonesia

1. The objective of monetary policyPeranan bank sentral dalam makroekonomi.

Bank Indonesia memiliki otonomi penuh di dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan-kebijakan.

Pertama-tama, sasaran dari bank sentral memusat di meraih dan pemeliharaan, stabilitas mata uang Indonesia (uang kartal) nilai, inflasi maksud (arti dan pertukaran rate.

Ke dua, bank sentral sudah diberi kemerdekaan di dalam melaksanakan kebijakan moneter nya (dengan kata lain menentukan instrumen yang moneter yang digunakan di dalam manajemen yang moneter), selagi pemerintah di dalam koordinasi dengan bank sentral itu akan di-set target inflasi.

Ketiga, keputusan di kebijakan moneter terletak di tangan Dewan Governors Bank Indonesia itu, tanpa intervensi dari pemerintah atau para pihak lain.

Dan keempat, Bank Indonesia untuk mengumumkan target inflasi nya dan rencana dari kebijakan moneter pada awal tahun itu dan untuk menyediakan suatu laporan kepada Parlemen untuk perilaku kebijakan moneter.

Dapat dijelaskan untuk mengatasi inflasi di Indonesia pemerintah mengurangi JUB dengan sarana bank ( mengurangi kredit dll).

2. Macroeconomic environment and policy objectives – Peranan Invisible Hand.

Sasaran hasil kebijakan moneter tingkat dari pengembangan keuangan, penyesuaian struktural, dan pengaturan yang macroeconomic di mana kebijakan moneter itu diterapkan.

Ø Pada tahun 1983, ketika alokasi pembebanan kredit bank dan suku bunga Negara dihapuskan.

Ø BI mengurangi perannya sebagai Bank Sentral dan memperkenalkan SBI ( Serifikat Bank Indonesia ). Sekuritas pasar uang mengeluarkan SPBU.

Ø SBI juga akan mempengaruhi suku bunga yang terdapat pada pasar uang. Dan pengaruhnhya itu akan terjadi secara perlahan- lahan.

Ø Perubahan sector keuangan diambil pada Pakto ’88 memudahkan investor untuk membuka bank, bank swasta nasional diluar ibukota provinsi (mudah membuka kantor cabang).

Ø Bank devisa → rupiah saja (uang domestik) 15% → 2% (harus likuiditas)

Ø Pada pakto ’88 : pembatasan atas operasi bank asing disederhanakan, , prosedur-prosedur untuk menetapkan bank-bank cabang disederhanakan, dan persyaratan-persyaratan untuk menjadi suatu bank pertukaran valuta asing diperlonggar.

Ø Periode Krisis Orde Baru (1997-2000) : pemerintah menutup pembiayaan negara dengan hutang pada International Monetary Fund (IMF).. Akibatnya, tingkat pertumbuhan ekonomi menyusut 1368% selama 1998 dan tingkat inflasi yang tahunan mencapai 776% pada periode tahun 1998.

3. Monetary Policy transmission mechanism

3.1 general Framework of transmission channel

Kebijakan moneter mempengaruhi ekonomi dan inflasi yang lebih luas, khususnya dikenal sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Dimana Kerangka umum dalam penyebaran kebijakan moneter secara berurut-urut terdiri dari kurs, harga aktiva, suku bunga, neraca, kredit, dan harapan(expectation).

gambar

Pemerintah mengatur kebijakan moneter dengan menjadikan BI rate sebagai patokan dalam mengendalikan likuiditas di pasar uang. Dimana, jika SBI turun maka tingkat suku bunga mengalami penurunan yang berpengaruh terhadap kenaikan investasi pada pasar uang. Hal ini berkaitan erat dengan kerangka umum diatas, Dimana Mekanisme transmisi moneter melalui suku bunga mulai dari suatu perubahan suku bunga jangka pendek, yang akan disalurkan kepada semua tingkat bunga menengah dan jangka panjang melalui mekanisme keseimbangan dari permintaan dan penawaran di dalam pasar keuangan. Perubahan tingkat bunga nominal jangka pendek, yang disimpan bank sentral dapat mempengaruhi perubahan-perubahan di dalam tingkat bunga riil jangka pendek dan jangka panjang. Dimana suku bunga efektif jangka pendek yang lebih rendah akan menyebabkan suatu penurunan suku bunga efektif jangka panjang. Semua ini diharapkan dapat mempengaruhi variabel-variabel harga di dalam pasar keuangan, seperti variabel di sektor riil, dan inflasi.

Kredit merupakan faktor penting dalam pasar uang, dimana Sistem perbankan menciptakan uang (likuiditas) dengan mengeluarkan deposito-deposito dan investasi spekulatif tanpa peran di sisi aktiva. Tiga kondisi yang penting dalam kredit, adalah (1) jumlah uang beredar dalam kebijakan moneter dapat berpengaruh terhadap uang di sector riil.(2) tingkat bunga jangka pendek harus mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang dan (3) tingkat bunga jangka panjang harus mempengaruhi pengeluaran investasi di sektor riil. Kurs merupakan hal penting dalam menjalankan kebijakan moneter, dimana perubahan kurs mempengaruhi penawaran dan harga dalam pasar uang. Harapan (expectation) dalam pasar uang merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat investasi di pasar uang. Asset price merupakan nilai dari aktiva yang mempengaruhi tingkat bunga pada pasar uang, sedangkan Balance sheet adalah laporan yang terdiri dari asset, liabilities dan equity, dimana menunjukkan kondisi baik/buruknya posisi keuangan suatu perusahaan.

Penjelasan diatas akan mempengaruhi domestic demand dan domestic supply serta komponen lainnya yang saling berkaitan satu sama lain terhadap perekonomian di pasar uang. Jika kerangka umum tersebut tidak terkordinir dengan baik akan terjadi inflasi.

3.2 Exchange Rate

Kurs merupakan hal penting dalam menjalankan kebijakan moneter, dimana perubahan kurs mempengaruhi penawaran dan harga dalam pasar uang. Suatu sistim kurs yang mengambang, sebagai contoh, kebijakan moneter akan jatuh, dimana harga uang kartal domestic juga akan menurun, dan meningkatkan harga dari barang impor, hal tersebut mengangkat harga domestik . Sementara itu, dalam beberapa Negara dengan suatu rezim yang diatur, dimana transmisi moneter yang dibanding oleh kurs lain akan memiliki suatu pengaruh secara relatif yang lebih besar dari harga di sector riil.

Berdasarkan analisa SVAR bahwa sebelum terjadi krisis, transmisi kebijakan moneter terhadap kurs sangat lemah. Dimana tindakan Moneter authoriy untuk memelihara keragaman kurs di dalam suatu kelompok tertentu telah menjaga kurs yang dapat diprediksi dan relatif stabil. Di bawah kondis seperti ini, suku bunga di instrumen SBI tidak mempunyai suatu dampak penting dalam kurs, dan kurs tersebut bukan satu faktor penentu yang penting dalam inflasi.

Jadi bank Indonesia sudah berkembang dan menerapkan satu sistim pemantauan dalam pertukaran valuta asing untuk melengkapi model makro pada kurs. Pertama, International Transaction Reporting System (LLD) dikembangkan dalam 2000 untuk memperbaiki pemahaman sifat dan besaran dari transaksi pertukaran valuta asing yang disertai bank-bank, lembaga keuangan bukan bank, perusahaan, dan individu. Ke dua, pemrosesan dalam analitis (OLAP) sistim dibuat dalam 2002 untuk memonitor transaksi pertukaran valuta asing sehari-hari di dalam pasar domestik. Sistem ini membantu Bank Indonesia untuk mengidentifikasi sumber dari fluktuasi kurs dan membatasi fluktuasi-fluktuasi di dalam kurs.

3.3 ASSETS PRICE CHANNEL

Kondisi keuangan Negara dapat dilihat melalui asset price . asset price merupakan kekayaan yang akan dipakai oleh suatu Negara untuk menjalankan perekonomiannya. sebetulnya tidak ada hubungan antara asset price dengan ekonomi. tetapi menurut studi yang dilakukan oleh idris, assets price channel mempengaruhi kebijakan moneter melalui dampaknya di investasi.

Investasi terhubung dengan tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh BI dengan nama lain yaitu SBI. jika SBI di naikan maka masyarakat cenderung lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank, sehingga dari pihak bank juga sedikit untuk mengeluarkan dana unutk kredit kepada masyarakat. kenaikan SBI juga mempengaruhi tingkat keinginan seseorang untuk berinvestasi karena dengan SBI yang di naikkan maka akan membuat biaya investasi lebih besar. sebaliknya bila SBI di turunkan aktivitas di pasar modal akan bergairah kembali. tetapi perlu disadari juga setiap satu peningkatan investasi maka akan menimbulkan inflasi. tetapi sebagian orang lebih menahan kekayaannya pada saat kanaikan inflasi.

Konsumsi juga memiliki nilai negative. konsumsi yang terlalu besar akan mengakibatkan peningkatan inflasi juga. konsumsi yang terlalu tinggi akan menyebabkan demand pull inflation.

survey menunjukan bahwa investasi yang banyak di pilih oleh masyarakat di atas 33% lebih memilih menempatkan dananya ke dalam deposito bank. kemudian tanah dan perumahan menjadi tempat ke dua dan tiga dalam pilihan investasi yang lebih di sukai masyarakat. sedangkan saham hanya 3%.

3.4 interest rate channel

Salah kebijakan moneter BI adalah interest rate yaitu kebijakan yang mengatur suku bunga untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Jika jumlah uang beredar berlebih maka pemerintah akan menaikan suku bunga agar masyarakat memilih untuk manabungkan uangnya dari pada membelanjakannya. Tetapi pemerintah juga harus berhati-hati agar pasar modal tidak terkena imbas karena dapat menyebabkan lambatnya pergerakan sector riil.

Pada masa pre krisis tingkat bunga kredit, deposito dan investasi riil sangat dipengaruhi oleh tarif antar bank. Pertumbuhan investasi dipegaruhi oleh pinjaman asing dan kredit investasi riil. pada masa ini semua masih berjalan dengan lancar dan dapat merespon kinerja bank sentral dengan baik.

Setelah krisis terjadi semua pasar menjadi tergangu baik pasar uang,modal,barang&jasa. Ketika SBI naik bank-bank umum akan mengurangi kucuran kredit mereka yang akan mengakibatkan investasi menurun jika invesatasi menurun maka GDP dan GNP akan rendah dan nilai eksport juga rendah jika nilai eksport lebih kecil dari pada import maka SDR kita akan kecil.

3.5 Bank lending channel

Bank dan atau perantara keuangan mempunyai peranan yang penting didalam kebijakan moneter terkait dengan perekonomian suatu Negara. Ada satu pendapat bahwa bank merupakan lembaga penyalur kredit.

Tiga kondisi penting yang menentukan bank sebagai lembaga penyalur dana :

1. Harga mengikat sehingga kebijakan moneter mempengaruhi keseimbangan dipasar uang.

2. Tingkat bunga jangka pendek harus dapat mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang.

3. Tingkat bunga jangka panjang harus dapat mempengaruhi investasi.

Dalam perbankan, Aktiva seperti juga kewajiban memainkan peranan yang penting ( Bernanke dan Blinder (1988)). Dalam siklus moneter jika bank mengurangi cadangan minimum maka deposit (tabungan, deposito, dan giro) akan menurun yang menyebabkan penurunan pinjaman, sehingga akan mengurangi tingkat investasi. Sedangkan bagi Negara berkembang investasi merupakan sumber pemasukan external terbesar. Ketidakstabilan dalam dunia perbankan dapat mempengaruhi keadaan makroekonomi suatu Negara. Oleh sebab itu kondisi dibawah ini perlu diperhatikan :

1. Bank sentral harus mampu menyeimbangkan tingkat penawaran dari debitor.

2. Pinjaman bank dan sekuritas harus seimbang.

· Pre – crisis period

Diawal masa krisis tingkat kredit bank tidak dipengaruhi oleh kebijakan moneter karena akses antara bank konvensional dan bank asing relative mudah. Akibatnya walaupun JUB menurun bank-bank masih bisa menyediakan pinjaman bagi para debitor.

· Post – crisis period

Peminjaman bank komersial dipengaruhi oleh perilaku debitor selama dan setelah krisis. Melemahnya posisi neraca perusahaan dapat memperburuk posisi keuangan suatu perusahaan Karen bank tidak bersedia meminjamkan dananya. Karena liquiditas perusahaan dipertanyaankan.

· Evidence from survey

Bagian ini menyajikan satu analisa berdasar pada suatu survei dari bank-bank dan perusahaan. Survei itu dirancang untuk menghasilkan jawaban atas beberapa pertanyaan-pertanyaan yang penting di perilaku dari bank-bank dan perusahaan sebagai akibatnya dari suatu krisis yang moneter. Dari survei perbankan, masalah pokok diuji adalah apakah bank-bank mengurangi penawaran pinjaman mereka setelah suatu krisis yang moneter, seperti yang diharapkan oleh peminjaman bank menggali hipotesis.

· Lending behavior after a monetary shock:

Survei membuktikan bahwa didalam kasus JUB yang menurun akan mengurangi kredit dari bank. sementara bank pertukaran valuta asing tidak akan mengurangi penawaran kredit mereka (borrowing). Sebagai pembanding, bank asing dan bank yang lebih besar serta bank pertukaran valuta asing tidak mempunyai akses untuk menyimpan dana. Lebih lanjut, saham bank tersebut memungkinkan untuk melindungi peminjaman sedikitnya untuk sementara waktu. Suatu hasil ditemukan dalam kasus SBI yaitu sekitar 72 % dari bank-bank mengurangi daftar biaya pinjaman (bunga) dan sekitar 20 % menaikkan penawaran pinjaman.

3.6 Expectation Channel

Penyebab tarjadinya Krisis Kredit yang dikarenakan melemahnya neraca perusahaan di tengah – tengah rendahnya calon pembeli membuat bertambah buruknya posisi keuangan perusahaan. Dan oleh sebab itu mengurangi kesediaan bank untuk memberikan pinjaman. Untuk itu bank menjadi lebih selektif lagi untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan. Karena bank tidak ingin mengambil resiko. Karena dalam kondisi seperti ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kredit macet. Pinjaman bank adalah sumber utama dari dana luar.

Dari survei menunjukan dalam melakukan aktivitas bisnis, perusahaan menggunakan dana internal. Sementara , kredit bank masih merupakan sumber utama dari dana luar. Alasan utama perusahaan menggunakan dana internal karena mengacu pada masalah krisis kredit. Yaitu karena tingkat pinjaman relatif tinggi, prosedur untuk melakukan kredit juga sangat ketat dan karena adanya penjatahan kredit olehvbank.Biasanya perusahaan yang menggunakan pinjaman bank sebagai sumber utama untuk pembiayaan yaitu perusahaan manufaktur. Sementara itu sektor pertanian merupakan sektor yang paling sukar untuk memperoleh kredit dari Bank karena bisnis nya dinilai masih dalam skala kecil.

Keberadaan dari saluran pinjaman bank ditentukan oleh ada tidaknya kebijakan moneter yang mempengaruhi penawaran pinjaman. Sekitar 214% Bank- bank mengurangi penawaran pinjaman dan mayoritas bank ( 71%) menaikan tingkat pinjaman sebagai akibat dari uang ketat. Sementara itu, bank negara dan bank asing menaikkan suku bunga untuk mengurangi pinjaman- pinjaman.

Evidence from survey

Tingkat inflasi ditentukan oleh kurs dan suku bunga. Saat suku bunga ditingkatkan maka inflasi juga ikut meningkat. Dalam hal ini pasar tidak mempertimbangkan penyimpangan waktu dari kebijakan moneter. Untuk memproyeksikan inflasi masa depan, pasar menggunakan inflasi yg sebelumnya sebagai acuan.

4. conclusion

Setelah krisis, perekonomian sudah mengalami perubahan struktural. Suku bunga masih digunakan dalam pelaksanaan kebijakan moneter meskipun besarannya sudah dipengaruhi oleh kondisi-kondisi di dalam sistem perbankan dan menyeluruh faktor-faktor ketidakpastian dan risiko yang lebih tinggi. Serta mempengaruhi peminjaman bank untuk membatasi penurunan deposito-deposito dengan pembubaran, saham sekuritas mereka. Dan peminjamannya lebih sensitive terhadap perusahaan dengan modal rendah.

Entry filed under: EKONOMI. Tags: .

Analysis Macroeconomic in India Camels

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: